Corrupted Innocence

BY : Yuuhizaka_Sora
Category: Misc. Non-English > Games
Dragon prints: 1374
Disclaimer: I do not own Vocaloid, nor the characters from it. I do not make any money from the writing of this story.

"Tidakkah kau ingin mencoba apa yang dilakukan orang dewasa?"
Corrupted Innocence
VOCALOID © YAMAHA
Densen Complex © Kizuki Akira
Untuk alasan yang tak pernah Rin ketahui sampai umurnya genap sepuluh tahun, Tou-san dan Kaa-san selalu melarang Rin dan kakaknya, Len, untuk menyentuh remote tv terutama di waktu malam.
Gadis kecil itu sendiri tak pernah mencoba bertanya lagi. Dia tahu Tou-san dan Kaa-san pasti mencoba mengalihkan pembicaraan tiap kali ia menanyakan perihal tersebut, bersikap seolah pertanyaan demi pertanyaan itu tak pernah dilontarkan hingga Rin menyerah dan memilih untuk kembali diam saking jengkelnya. Di samping itu, Rin sudah terlalu bosan untuk mengulang pertanyaan yang sama.
Pernah sekali Rin menyelinap di waktu malam dan menyalakan televisi dengan mengecilkan volumenya hingga nol, tapi perbuatan Rin dipergoki oleh Tou-san, tak ayal kedua orang tuanya pun marah besar. Sangat marah sampai ia dihukum tak boleh keluar kamar kecuali untuk sekolah dan makan. Seakan hukuman itu belum cukup untuk membuat efek jera, televisi di ruang tengah ikut menjadi korban. Jadilah benda elektronik tersebut dipindahkan ke dalam kamar utama.
Semenjak saat itu, Rin tak mau lagi mengulangi perbuatannya dan memutuskan untuk berhenti penasaran. Ia selalu takut pada ekspresi marah Tou-san yang membuatnya tak berani menatap, juga nada bicara Kaa-san yang sinis apabila tak suka dengan perbuatannya. Selama mereka tidak mengurungnya dan ia bisa menonton acara favoritnya, Rin sudah merasa cukup.
Lagipula dia hanya anak-anak. Mudah dibuat gembira dengan mainan, kartun dan permen lolipop sebagaimana bocah-bocah lain yang senang bermain dalam kotak pasir di taman meski Rin lebih suka diam di rumah dan membaca buku cerita.
Dan di usia sepuluh tahun itulah, Rin mulai mengetahui apa yang selama ini orang tuanya coba untuk mereka tutup-tutupi...
Beberapa anak laki-laki di kelasnya diam-diam membawa ponsel ke sekolah. Adakalanya saat waktu luang, sebagian dari mereka berkumpul di pojok kelas, berkerumun tanpa ada satu pun yang tahu apa yang sekumpulan anak laki-laki itu lakukan kecuali mereka sendiri. Rin selalu memperhatikan dan wajah mereka seringkali memerah setelahnya.
"Jangan dekati mereka," kata Rana suatu hari, "Mereka menonton sesuatu yang tidak senonoh," lanjut gadis kecil bersurai dikepang itu dengan air muka jijik.
"Kau tahu apa yang mereka lihat?" tanya Rin.
"Oh, kemarin aku penasaran. Jadi kuminta Lui untuk memperlihatkannya. Jangan sampai kau melihatnya, Rin. Menjijikkan," jawabnya dengan ekspresi yang membuat Rin semakin yakin kalau tontonan itu mungkin ada hubungannya dengan channel ataupun program terlarang di televisi yang mereka bilang belum cukup umur untuk ditonton olehnya. Tou-san sudah bilang bahwa Rin akan boleh menontonnya jika sudah lebih dewasa nanti.
Jujur saja, Rin tidak tertarik. Lagipula apa asyiknya, sih, acara yang hanya boleh ditonton orang dewasa itu? Program-program yang sering ditonton oleh Tou-san dan Kaa-san seringkali berupa drama atau kuis yang membuatnya ketiduran di sofa tanpa sadar. Jadi yang ini pun pasti lebih membosankan lagi...
Waktu itu pasti akan datang. Ya, saat di mana Rin akan mengetahui apa yang selalu disembunyikan oleh orang dewasa.
Dan sayangnya, waktu itu datang terlalu cepat.
"Kau ingin tahu kenapa Tou-san dan Kaa-san melarang kita menonton channel tertentu?" tanya Len saat mereka bertemu sepulang sekolah. Gedung sekolah mereka memang satu wilayah dan berada di naungan yayasan yang sama. Tidak biasanya sang kakak menghampirinya duluan seperti ini, jadi Rin merasa cukup antusias. Hubungannya dengan Len tidak buruk, tapi tak bisa dibilang akrab pula.
Walau diam-diam, Rin selalu senang apabila Len mengajaknya bicara terlebih dahulu. Kakak yang lebih tua tiga tahun darinya itu tidak sering membagi apa yang ia ketahui dengan Rin. Maka tatkala Rin mendengar Len bertanya padanya dengan nada yang sangat misterius, dia tak bisa menahan diri untuk tidak tertarik,
"Memangnya apa?" Rin balik bertanya perihal channel yang disebut-sebut sebagai channel orang dewasa tersebut.
"Datang ke kamarku nanti. Akan kutunjukkan padamu apa itu."
Rin mengangguk setuju. Sesampai di rumah, ia langsung mengganti seragamnya dengan pakaian kasual yang sering dipakainya sehari-hari, kaus tanpa lengan dan rok pendek selutut. Setelah minum ke dapur, Rin mengetuk pintu kamar Len yang bermaterial kayu mahogani tersebut,
Tok tok...
"Nii-san?"
"Masuk!"
Rin membuka pintu kamar itu, memperlihatkan seisi ruangan yang remang akibat tirai tertutup. Hawa sejuk menguar karena hembusan AC di sisi kanan dinding, Rin menutup kembali pintunya dan hendak mendekati Len yang tengah duduk di atas hamparan futon.
"Kunci pintunya, Rin," perintah Len.
"Eh? Kenapa?"
"Kunci saja. Kau mau melihat acara itu tidak?"
Nada bicara Len membuat Rin tak memiliki nyali untuk bertanya lebih lanjut. Segera dikuncinya pintu tersebut, menimbulkan bunyi putaran kunci terdengar jelas dalam ruang sunyi tempat mereka berada.
Semenjak Rin memasuki wilayah pribadi Len, tak sekalipun anak laki-laki berusia tiga belas itu menoleh padanya. Matanya terfokus pada layar laptop, lengkap dengan sebuah headphone hitam menutupi telinga. Rin penasaran apa yang tengah dilakukan kakaknya itu,
"Apa yang kau tonton?"
"Oh, maaf. Sepertinya aku terlalu serius..." Len melepas headphone-nya, kemudian menggeser posisi duduk sedikit lebih ke kanan. Tanpa diperintah Rin ikut duduk di atas futon itu.
"Sedang menonton apa?"
"Anime," jawab Len singkat, "Oh ya, aku ingin kau berjanji satu hal padaku sebelum aku memperlihatkan acara "itu" padamu."
Rin hanya memasang ekspresi tanya.
"Apapun yang kau lihat, jangan bilang apa-apa pada Tou-san, Kaa-san atau siapapun. Bagaimana?"
"Kenapa?"
"Jangan banyak tanya. Jawab saja iya atau tidak. Kalau iya, ini akan jadi rahasia kita berdua."
Mata Rin berbinar mendengar kata 'rahasia'. Kata itu sangat mendebarkan baginya. Bukankah ini hebat? Rahasia yang hanya mereka berdua mengetahuinya. Memikirkannya membuat dada Rin serasa dipenuhi kepak sayap kupu-kupu. Oh, bisakah mereka melakukan janji jari kelingking?
Melihat wajah serius Len, Rin mengurungkan niatnya. Jadi dengan satu anggukan semangat, Rin pun menyetujui persyaratan itu.
"Bagus. Sekarang pakai ini, jangan sampai suaranya terdengar sampai keluar," Len memberikan headphone-nya dan mengklik sebuah folder berisi banyak banyak sekali video beraneka judul. Tanpa pikir panjang, dipilihnya salah satu dari deretan video tersebut. Len bangkit dan berjalan ke meja belajar selagi video mulai diputar,
"Kau tidak mau menontonnya bersama-sama?" tanya Rin sedikit kecewa.
"Tidak. Pasti aneh rasanya kalau aku menontonnya bersamamu," sahut Len, duduk di bangku putarnya yang berwarna biru. Ketika Len mengambil bukunya, Rin berbalik kembali ke laptop silver itu. Setidaknya Len tetap di sana, jadi ia bisa bertanya jika acaranya tak bisa ia mengerti.
Lagipula, ini acara orang dewasa, kan?
Rin benar-benar tak tahu sebenarnya acara ini termasuk pada kategori mana. Film? Drama? Kuis? Ah... tidak. Dia tak melihat rangkaian credits di awal seperti film-film di tv, tidak juga opening theme seperti drama yang gemar sekali Kaa-san tonton. Dan acara kuis juga tak mungkin seperti ini... harusnya banyak orang, lampu-lampu yang berkelip dan riuh tepuk tangan untuk sang host yang membuka acara.
Tapi ini... Hanya menampilkan seorang gadis yang tengah duduk di atas kasur. Ia mendengar suara laki-laki yang tengah menanyai gadis itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak Rin pahami. Setelah Rin perhatikan, ia mengambil kesimpulan sepertinya ini adalah semacam reality show.
"...?" Rin memiringkan kepala. Alisnya mengernyit. Gadis itu tampak mengenakan seragam yang sama sekali tak familiar. Rin tak pernah melihat siswai berseragam seperti itu di sekitar sini. Wajahnya malu-malu, dan dia selalu mengakhiri jawabannya dengan tawa kecil yang polos. Sampai akhirnya orang lain dalam video itu muncul. Laki-laki. Dia menaiki kasur dan mendekati si gadis.
Adegan selanjutnya benar-benar tak pernah Rin sangka. Dia mulai bingung. Apa yang laki-laki itu lakukan? Kenapa dia menyentuhnya seperti itu? Bukankah guru di sekolah pernah bilang kalau beberapa bagian dari tubuh kita tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain?
Berbagai pertanyaan berputar di benak Rin. Dia harus menanyakannya pada Len!
"Kenapa laki-laki itu memegang-megang gadis itu?" tanyanya pada Len yang tengah menulis.
"Mereka akan melakukan seks," jawab Len seraya memutar bangkunya ke arah Rin.
"Seks?" Rin merasa pernah mendengar kata semacam itu entah di mana... Ah! Pendidikan seks usia dini! Kalau tidak salah, gurunya pernah berkata demikian di kelas sambil memperlihatkan gambar anak laki-laki dan perempuan yang dapat dibuka satu persatu pakaiannya. Semua anak di kelas tampak tersipu, namun sang guru berhasil menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Walau Rin tidak ingat apa ada bagian yang menjelaskan soal apa yang kira-kira dikerjakan orang dewasa saat melakukan ‘seks’ tersebut.
"Itu yang dilakukan orang dewasa. Tonton saja, nanti kau akan lihat bagian serunya," lanjut Len. Rin mengangguk dan kembali menyimak acaranya.
Jadi seks itu seperti ini? ... Tapi, rasanya sangat berbeda dengan apa yang dikatakan Guru di sekolah...
Mereka hanya menjelaskan soal organ-organ yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan, juga perbedaan antara keduanya saat mulai beranjak remaja. Mendeskripsikan bahwa itu adalah karunia yang mesti dijaga dari sentuhan. Lalu kenapa gadis dalam video itu diam saja...?
Rin menelan ludah. Headphone di telinganya mulai mengeluarkan suara yang belum pernah didengarnya seumur hidup, dan itu terdengar amat sangat aneh. Tiba-tiba Rin merasa agak sulit bernapas. Entah kenapa pasokan oksigen yang masuk ke paru-parunya terasa sangat lambat. Bahkan hawa dingin AC tak lagi terhiraukan.
Dia menggigit bibir. Kenapa sekujur tubuhnya terasa semakin menghangat? Kenapa matanya tak bisa lepas dari layar laptop di hadapannya? Kenapa gadis itu tidak melawan?
... Sensasi apa ini?
Rin melepas headphone-nya, menarik perhatian Len saat gadis kecil itu berjalan ke arah sang kakak dengan wajah memerah,
"M-mungkin cukup sampai... di sini saja..." gumamnya pelan. Ujung rok teremas kuat oleh genggaman kecil buku jarinya yang pucat.
Len melirik laptopnya yang tetap menyala.
Masih setengah jalan.
"Sepertinya yang satu itu terlalu berlebihan untukmu," ungkap Len datar. "Jangan ragu datang ke kamarku kalau kau masih penasaran."
Rin menatap wajah kakaknya itu hati-hati,
"Y-ya..."
Sebenarnya Rin masih penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Hanya saja... Sesuatu dalam dirinya berkata itu adalah sebuah kesalahan.
.
.
.
Sekitar satu minggu telah berlalu semenjak hari itu. Rin masih memegang janjinya pada Len. Dia tak mengatakannya pada Tou-san, Kaa-san, atau siapapun. Namun sebagai gantinya, Rin merasa sesuatu dalam hatinya seolah terusik oleh apa yang saat ini tengah ia sembunyikan.
Rana terus mengeluh soal bagaimana anak laki-laki di kelas mereka benar-benar tidak punya malu. Dia berharap para guru menyita ponsel itu dan menghukum mereka seberat-beratnya, terutama si pemilik karena telah mengotori otak polos siswa-siswa SD. Sedangkan Rin hanya bisa diam menanggapi.
Adegan demi adegan dalam video terus berputar dalam kepalanya bagai film yang diulang-ulang. Dan Rin tak tahu kenapa ia tak bisa berhenti memikirkannya. Bahkan pagi ini dia terbangun serta menyadari bahwa mimpinya semalam adalah tentang hal yang sama.
Tiap kali ia tak disibukkan oleh sesuatu, pikirannya pasti langsung tertuju ke sana, diikuti dengan reaksi tubuh yang terasa sama saat ia duduk menonton acara itu di kamar Len.
Rin tak bisa memutuskan apakah ia menyukainya atau tidak. Tapi anehnya, dia tak bisa menghentikan imajinasi tentang si gadis berseragam sekolah... Gadis itu bagaikan hantu yang terus membayanginya ke manapun dia pergi.
"Kau baik-baik saja, Rin?" tanya Kaa-san saat mereka berkumpul di ruang makan, "Akhir-akhir ini kau tidak banyak bicara..."
Tou-san mengintip dari balik surat kabar yang tengah dibacanya,
"Katakan saja jika kau punya masalah."
"A-Aku baik-baik saja..." jawab Rin pelan. Ia melirik Len yang menyantap makanannya dengan tenang, tak menggubris percakapan itu sedikitpun.
Apa Nii-san juga mengalami hal sepertiku...?
"Oh ya, besok Kaa-san dan Tou-san akan pergi ke rumah teman pagi-pagi. Kalian berdua jaga rumah, ya."
Satu hal yang tak mereka ketahui...
Besok bisa saja menjadi titik balik terdahsyat dalam kehidupan mereka.
.
.
.
Rin meringkuk di kasurnya. Pagi itu dia hanya sarapan dengan sepotong roti tanpa olesan selai dan segelas air putih. Setelahnya, ia kembali ke kamar dalam diam dan masuk lagi ke balik selimut.
Kaa-san dan Tou-san sudah berangkat sejak pukul setengah tujuh pagi, tujuannya cukup jauh kata mereka, jadi hanya ada ia dan kakaknya di rumah sekarang. Suasana sepi. Rin dan Len memang jarang menghabiskan waktu bersama, melakukan permainan-permainan konyol atau menyaksikan kartun Minggu pagi berdua sambil sesekali berargumen soal karakter mana yang paling hebat.
Mereka memang anak yang sedikit berbeda ketimbang anak-anak lain di sekitar kompleks.
Meskipun keduanya tidak begitu suka bermain di luar, namun mereka tidak seperti anak-anak antisosial yang kesulitan membaur dengan orang sekitar. Kepribadian introvert bukan berarti keduanya tak mampu berinteraksi sebagaimana mestinya. Dan orang tua mereka tentu bangga mengenai hal itu, bicara soal anak tetangga yang senang sekali bermain bola di jalanan dan memecahkan kaca jendela. Dan karena sikap mereka itulah, terkadang apa yang ada dalam benak Kagamine bersaudara sangat sulit untuk ditebak. Rin jadi bertanya-tanya, apakah Kaa-san dan Tou-san akan marah jika mereka tahu apa yang akhir-akhir ini sering ia pikirkan...?
Kemungkinan besar mereka akan marah. Buktinya dia dihukum kurung hanya karena mencoba mencari tahu soal acara orang dewasa itu. Jadi bukankah sebaiknya ia hentikan saja semua pemikiran ini?
...
...
"Kumohon menghilanglah dari pikiranku!" geram Rin seraya menjambak rambutnya kuat-kuat. Tetap saja, khayalan itu masih menghantuinya. Rin bangkit dan mengambil sebuah buku bacaan. Mungkin dia harus mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Paragraf pertama. Paragraf kedua. Paragraf ketiga...
... Apa yang selanjutnya terjadi pada gadis itu...?
Brak!!
Rin melempar bukunya ke sudut kamar, tergeletak dengan bagian tengah terbuka lebar-lebar. Itu dia! Mungkin ini alasan kenapa adegan itu tak bisa berhenti berkeliaran dalam kepalanya! Gadis bersurai pendek itu bangkit dan keluar dari kamarnya, berjalan was-was menuju teritori Len yang tak jauh dari kamarnya.
Diketuknya pintu bercat pernis itu.
"A-ada apa?!" seseorang menyahut dari dalam dengan intonasi gugup. Rin mendadak tegang,
"Umm... Boleh aku masuk?" tanyanya hati-hati.
"Sebentar!"
Didengarnya bunyi grasa-grusu dan deritan lemari terbuka. Deg deg. Menunggu Len membuka pintu saja sudah membuat jantungnya berpacu, apalagi...
"Ada apa?" Len membukakan pintu, mengulang pertanyaannya dengan wajah yang tampak merona. Napasnya terengah seakan habis berlarian. Rin sempat terdiam. Ekspresi itu mengingatkan Rin pada dirinya saat seminggu yang lalu.
"Ano ne, Nii-san..." ia memalingkan wajahnya agak takut, "Aku... Bisakah aku menonton acara itu lagi?"
Len terkesiap. Dia memberi jalan bagi Rin untuk masuk. Diberitahunya folder di mana Rin bisa menemukan video-video itu sementara Len hendak keluar dari sana,
"Kau mau ke mana?" tanya Rin, baru saja hendak mengenakan headphone-nya.
"Aku tidak mau menontonnya bersamamu."
Rin menunduk kecewa. Padahal ia pikir Len akan tetap di sana sehingga mereka bisa melihatnya bersama-sama, jadi Rin tak perlu merasa canggung sendirian.
"Apa menghabiskan waktu bersamaku segitu buruknya?" kata-kata Len memang agak menyikut hatinya barusan.
"Bukan seperti itu!" "Padahal, aku ingin menontonnya berdua denganmu, Nii-san."
Sontak wajah Len semakin memerah,
"M-Memangnya kenapa...?"
"Ka-karena aku merasa aneh saat menontonnya... Bukankah akan lebih baik saat ada teman yang bisa diajak bicara saat kau merasakan hal yang sama?"
Len membuang muka, "Y-yah... sebenarnya aku juga sedang menonton itu..."
Rin tersenyum antusias,
"Ayo kita melihatnya berdua!" Len kembali ke kamarnya dan menutup pintu tanpa suara, ikut duduk di atas futon yang tak tertata rapi dengan tindak-tanduk kikuk. Rin meliriknya. Air muka Len kelihatan kaku.
"Nii-san, kau cuma punya satu headphone?" tanya Rin.
"Apa boleh buat, sepertinya kita harus mendengarnya langsung dari speaker," Len mencabut kabel headphone itu, "Kau mau apa?" Len memperhatikan sang adik yang mengambil sesuatu di atas meja belajar,
"Ayo kita gunakan mini salon," sahut Rin sambil membawa sepasang mini salon tersebut. Len menelan ludah, diperhatikannya Rin memasang benda itu ke laptopnya, kemudian mencari video yang ia tonton kurang lebih seminggu lalu,
"Apa nama video yang waktu itu?"
"Yang mana saja."
"Eeeh, tapi aku ingin tahu kelanjutannya..." rajuk Rin kurang senang.
"Asal kau tahu, semua video itu mungkin berbeda tapi mereka punya satu inti yang sama," jelas Len. Rin mengerjap.
"Kenapa bisa begitu? Bukannya setiap film harus berbeda dengan yang lainnya?"
"Kau akan mengerti jika sudah menonton semuanya."
Rin akhirnya manut dan mengikuti perkataan sang kakak. Dikliknya salah satu video secara random, menampilkan seorang gadis yang kali ini berbeda dengan yang pertama kali Rin lihat. Gadis itu memakai baju biasa dan sepertinya lebih dewasa.
"Boleh aku bertanya?" Rin menoleh ke arah Len yang duduk bersila,
"Tentu saja."
"Di mana kau mendapatkan video-video ini?" kalau boleh jujur, hal itu juga sempat mengusik pikiran Rin. Mungkinkah Len juga menyelinap di malam hari? Tapi mereka ‘kan tidak punya tv recorder.
"Temanku," jawabnya pendek.
"Oh..." Rin mengangguk, "Mungkin ini sama dengan yang dilihat anak-anak di kelasku..."
Len membeliak, "Apa? Teman-teman di kelasmu melihat video semacam ini?"
"Aku tidak tahu. Tapi wajah mereka selalu memerah tiap kali selesai melihat sesuatu di ponsel," terang Rin, "Reaksiku mirip sekali dengan mereka, wajahmu tadi juga..."
"Oh, diamlah."
Detik-detik pertama terasa agak membosankan, tapi mereka terus bertahan dan tidak men-skip-nya sedikitpun. Situasi mendadak canggung ketika dua orang dalam video itu mulai berciuman.
Tidak seperti video yang sebelumnya, kali ini semua adegan tampak lebih perlahan dan hati-hati. Tenggorokan Rin terasa kering saat mini salon mulai mengeluarkan suara-suara aneh.
"Jadi begitu caranya mencium seseorang..." gumam Rin.
"Dasar bodoh," tuding Len, merasa omongan Rin benar-benar bukan di saat yang tepat.
Mereka tetap diam sementara detik jam menyatu dengan bunyi audio dari mini salon berwarna hitam di sisi kanan yang mengeluarkan volume sedang. Meskipun AC menyala di suhu terendah, sedikit demi sedikit Rin merasa sekelilingnya terasa semakin... panas.
Diam-diam, Rin melirik Len dari pelupuk matanya. Ekspresinya begitu berbeda. Bawaannya selalu tenang dan datar meski ia tak pernah memancarkan aura dingin. Sekarang melihat wajahnya seperti itu, Rin bertanya-tanya kira-kira apa yang ada dalam benaknya saat ini…
Apa dia juga merasa canggung sepertinya?
Apa dia merasakan anomali suhu sebagaimana yang terjadi hanya pada tubuhnya?
Apa dia...… Ingin tahu bagaimana rasanya disentuh seperti dua orang yang mereka saksikan?
"Hey, Rin," tiba-tiba Len menyebut namanya di antara suara-suara itu, intonasinya rendah dan tertahan. Rin menyahut begitu pelan, tak punya keberanian untuk melakukan kontak mata langsung saat situasi mereka begitu tak terprediksi.
Kata-kata Len selanjutnya mengalun seperti hembusan angin di sela tirai jendela,
"Tidakkah kau ingin mencoba apa yang dilakukan orang dewasa?"
Mata Rin terpaku. Dia bisa mendengar keduanya dengan sangat jelas. Teriakan sang gadis agar semua itu dihentikan tak sejalan dengan bahasa tubuhnya yang tanpa perlawanan berarti. Dan pertanyaan Len juga... Gadis itu berkata tidak, namun jauh di lubuk hatinya, dia sejujur sepasang saudara beriris samudera yang saat ini telah terkontaminasi oleh dosa dan nafsu tanpa mampu mengendalikan rasa ingin tahu yang menggebu.
Mata mereka pun bertemu pandang.
Hanya butuh satu kata untuk merealisasikan jarak nol di antara mereka dan—
"…...Ya."
—they said, curiosity killed the cat.
~Bersambung~


You need to be logged in to leave a review for this story.
Report Story